Flanerie?

There was the pedestrian who wedged himself into the crowd, but there was also the flâneur who demanded elbow room and was unwilling to forego the life of the gentleman of leisure. His leisurely appearance as a personality is his protest against the division of labour which makes people into specialists. It was also his protest against their industriousness.

Fragments of Passagenwerk

Kata flânerie (flaan rée, flaanə rée) diperkenalkan oleh penyair Charles Baudelaire pada pertengahan abad 19. Sekalipun tidak terlalu tepat karena makna kata yang tergerus begitu diindonesiakan, flânerie kurang lebih bisa dipahami sebagai pejalan kaki.

Menurut Baudelaire, kesenian sudah tidak mampu mengikuti perkembangan dinamika kehidupan modern. Perubahan sosial dan ekonomi akibat kemajuan industrialisasi (pada abad 19) menuntut seniman untuk meleburkan diri mereka ke dalam kehidupan urban dan memposisikan dirinya, dalam istilah Baudelaire sendiri, sebagai seorang “ahli botani jalanan” yang menganalisa jejaring kehidupan urban. Karena itu kemudian istilah flânerie (the one who stroll) dan flâneur (the stroll) sangat identik dengan Paris.

Walter Benjamin kemudian mengadopsi konsep pengamatan urban ala Baudelaire tersebut, dalam studinya atas kota Paris pada abad ke-19. Dari sudut pandang Marxismenya, Benjamin mendeskripsikan flâneur sebagai produk kehidupan modern dan Revolusi Industri. Tidak pernah ditemui sebelumnya di sejarah bisa ditemukan manusia yang menggelinding menyusuri trotoar kota, melihat-lihat tanpa berniat membeli, serta memandang kerumunan orang, toko, dan papan iklan sebagai teks yang dinikmatinya. Fenomena kemunculan flaneur kurang lebih bisa disamakan dengan kemunculan turis.

Selain itu, Benjamin juga mengadopsi konsep Baudelaire sebagai gaya hidup. Flâneur dalam pandangan Benjamin adalah kaum borjuis yang tidak memiliki ”beban”[1] namun peka terhadap lingkungan dan kejadian di sekitarnya. Benjamin juga menyusuri sendiri jalanan Paris dan mengumpulkan banyak informasi, seperti halnya yang dilakukan para flaneur. Para flâneur adalah seorang narator yang menguasai kosakata dalam budaya visual, seorang narator yang memahami benar bahwa dirinya berdiri di pinggiran sebuah narasi besar yang sedang beroperasi di hadapannya. Seperti seorang pejalan yang menuliskan sesuatu di marjin kosong sebuah novel yang sedang dibacanya.

Paris pada abad ke-19 adalah kota yang bertumbuh sangat pesat. Di bawah Louis Napoleon III, tata kota Paris dirombak total. Jalanan sempit dan pemukiman padat penduduk yang kerap menjadi “jalur revolusi” dan basis perlawanan dibongkar dan diperluas. Selain itu, juga dibangun jalanan yang dilindungi dengan kanopi dan dipenuhi berbagai macam toko.

Studi yang pada awalnya diniatkan sebagai artikel koran tersebut pada akhirnya benar-benar menguras pemikiran Benjamin hingga akhir hayatnya. Kajian ekstensif sepanjang 960 halaman tersebut nyaris hilang begitu saja karena dihancurkan oleh Benjamin sendiri pada tahun 1940 saat dia melarikan diri dari kejaran Nazi. Karya itu sebenarnya lebih merupakan sebuah mosaik besar yang menampung begitu banyak kutipan dan studi atas berbagai subjek.

Sampai sekarang saya sebenarnya masih merasa agak berjarak dengan istilah flâneur ini. Susah rasanya membandingkan para pejalan yang saya lihat di mal dengan flâneur. Padahal istilah flâneur saya gunakan sebagai nama blog ini dengan harapan tulisan-tulisan saya mengenai ruang dan kota dihasilkan dari pembacaan atas kota seperti yang dilakukan Walter Benjamin.

 


[1] Frasa “tanpa beban” ini saya pakai untuk menggantikan “uninvolved” dan berangkat dari penjelasan yang bagus sekali dari Kill the DJ atas dunia subkultur anak muda di Indonesia (Subkultur Kita Hari Ini, Kompas, Jumat, 4 Mei 2007)

Responses

  1. thanks buat ngutip ‘tanpa beban’… hehehe
    salam kenal
    kill the dj

  2. salam kenal juga. ada lagi yg mau saya kutip, mas; “sorry, in this global world, people still ask you where do you come from.” hehe.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: