Oleh: Onny Wiranda | April 12, 2007

Berjalan Kaki di Indonesia

Di kota-kota besar Indonesia, mungkin kita jarang sekali menemukan trotoar-trotoar yang dipenuhi oleh para pejalan kaki yang berjalan tergegas. Mungkin hanya di Jakarta dan beberapa kota besar lain di Indonesia, itu pun pada jam-jam tertentu, pada jam makan siang misalnya. Setelah itu, trotoar biasanya lebih banyak kita saksikan digunakan oleh para pedagang kaki lima dan orang-orang yang menunggu angkutan umum.

Tulisan ini tidak berniat mencari penyebab mengapa trotoar diIndonesia tidak berfungsi, apalagi menyalahkan para pedagang kakilima. Tulisan ini hanyalah kumpulan transkripsi dari beberapa wawancara lepas dengan beberapa narasumber yang dilakukan antara bulan Februari-April 2007 di beberapa kota di Indonesia. Itu pun sebenarnya tidak diniatkan sebagai wawancara, melainkan hanya serangkaian obrolan yang kemudian berujung pada pembicaraan mengenai jalan kaki.

Kuzzy: Banyak Hotspot di Malioboro

Kuswidiantoro (27 tahun), warga Sendowo,
Yogyakarta, menuturkan bahwa pengalaman berjalan kakinya yang paling menarik adalah ketika berjalan kaki menyusuri Jalan Malioboro bersama dengan seorang temannya. Saat itu dia menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dan menggunakan trotoar sebelah barat. “Sebenarnya niatnya mau lewat yang sisi timur, tapi terlalu sesak, banyak pedagang kaki
lima.” Mereka memulai perjalanan dari Stasiun Tugu, mampir di Jalan Pajeksan, dan berakhir di Alun-alun Kidul. Ketika ditanya apakah berjalan kaki itu sambil mabuk, dengan cepat Kuswidiantoro menangkis, “lho warung lapennya khan belum buka kalau sore, lagian di sepanjang Jalan Malioboro hingga Alun-alun Selatan banyak hotspot.” Yang dimaksud dengan hotspot ternyata bukan tempat akses internet nirkabel, tapi adalah tempat menarik yang bisa dijadikan tempat rehat sejenak sambil memandangi keramaian jalan dan manusia yang melintasi trotoar. Pengalaman berjalan kakinya yang paling tidak menarik adalah saat melintasi perempatan Depok di Jalan Kaliurang. Menurut Kuswidiantoro, yang akrab dipanggil Kuzzy di kalangan teman-temannya ini, berjalan kaki di Yogyakarta sekarang semakin tidak menarik karena kondisi trotoar sangat tidak memadai dan sering kali dipadati oleh pedagang kaki lima. Bahkan di Jalan Malioboro, yang sebenarnya lebih tepat dinikmati sambil berjalan kaki. Lebih lanjut, Kuzz menjelaskan bahwa pengalaman berjalan kakinya lebih banyak diisi pengalaman yang tidak mengenakkan. Hal itu disebabkan karena “desakan ekonomi dan kesadaran masyarakat Indonesia yang masih rendah”. Kedua hal itu, menurut Kuzzy, membuat trotoar di Yogyakarta tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Olop: Kenangan Berjalan Kaki di Pematang Siantar

Berbeda dengan pengalaman Olop (25 tahun), mahasiswa Fakultas Elektro UGM asal kota Pematang Siantar, Sumatra Utara. Di Pematang Siantar, menurut Olop, jalan kaki masih merupakan aktivitas yang menyenangkan. Saat Olop masih duduk di bangku SMP dan SMA di Pematang Siantar dulu, dia biasa menghabiskan waktu sepulang sekolah berjalan kaki beramai-ramai bersama teman-temannya menelusuri pusat kota Pematang Siantar. Menurut Olop, jalan kaki di Pematang Siantar menyenangkan karena trotoar tidak dipenuhi dengan pedagang kaki lima seperti di Yogyakarta. Selain itu, kondisi trotoar juga cukup memadai dan luas (sekitar 3 meter). Kegiatan jalan kaki itu biasa dimulai di Jalan Diponegoro dan berujung di Pasar Horas dan memakan waktu kurang lebih 10 hingga 15 menit. Istilah yang dulu akrab digunakan untuk menyebut berjalan kaki adalah GL (Goyang Lutut). Karena itulah, walaupun sekarang Olop sudah meninggalkan kota kelahirannya tersebut, dia masih suka berjalan kaki. Menurut Olop, berjalan kaki membuat dia “lebih menghargai keadaan di sekitar” dan “menyehatkan raga dan pikiran”

Inyo: Jalan Tunjungan Sudah Mati

Pendapat Olop yang terakhir tersebut bisa kita pahami jika kita simak keterangan dan pengalaman Inyo Rohi (30 tahun), warga kampung Kedung Tarukan, Surabaya, berikut ini:

Berjalan kaki memang melelahkan, apalagi kalau tujuannya jauh. Tapi dengan melihat dan mengalami banyak hal; mulai dari melihat peristiwa aneh hingga perjumpaan yang tidak terduga, jiwa kita akan lebih kaya. Kita sekarang ini kan terbiasa dengan yang serba cepat. Yang penting tujuannya, bukan prosesnya…

Inyo tidak mengada-ada. Dia terbiasa berjalan kaki dari tempat tinggalnya ke kantornya di kawasan Gubeng. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu 30 menit itu memang tidak selalu dilakukannya setiap hari. Sejak dia masih kuliah di Universitas Airlangga hingga sekarang dia sudah bekerja. Biasanya dilakukan saat Inyo tidak sedang terburu-buru berangkat kerja dan setelah nongkrong di sebuah warung langganannya sepulang kerja. Beberapa ruas jalan yang dilalui Inyo, pemuda kelahiran Dili, Timor Leste ini, memang memiliki trotoar yang memadai dan bersih dari pedagang kaki lima. Tapi menurut Inyo trotoar-trotoar itu selalu kosong melompong dan “terkucilkan” dari penggunanya karena dikepung laju mobil, seperti di sepanjang Jalan Tunjungan dan Jalan Pemuda hingga Balai Kota Surabaya. Jarang sekali dia berpapasan dengan orang lain yang menggunakan trotoar tersebut. Justru di jalan yang memiliki trotoar yang tidak memadai, Inyo banyak berpapasan dengan sesama pejalan kaki. Sebenarnya alasan Inyo berjalan kaki adalah karena dia tidak memiliki kendaraan bermotor sendiri. Di masa kuliah dulu, jika kondisi badan sedang tidak baik atau sedang diburu waktu, Inyo biasanya menumpang temannya atau meminjam motor temannya. Ketika ditanya soal relevansi lagu “Mlaku-mlaku Nang Tunjungan”, dengan cepat Inyo menyatakan bahwa Jalan Tunjungan sudah mati.

Panjul: Mensyukuri Anugrah Tuhan

Pengalaman Inyo tersebut agak memiliki kemiripan dengan pengalaman Panjul (25 tahun), warga Kulon Progo yang bekerja di sebuah penerbitan terkemuka di Yogyakarta. Bagi Panjul, tidak memiliki kendaraan bukan alasan baginya untuk tidak bisa pergi berjalan-jalan. “Tuhan memberi kita kaki kok tidak dimanfaatkan,” begitu alasan Panjul. Titik awal perjalanan Panjul biasanya dari Kampus UGM Bulaksumur. Dari sana biasanya Panjul berjalan ke arah selatan dan “mampir” ke LIP (Lembaga Indonesia Prancis, Jl.Sagan). Setelah puas berlama-lama di LIP, Panjul kembali berjalan ke angkringan favoritnya, di depan Bentara Budaya (Jl. Suroto). Setelah itu dia kembali berjalan kaki ke daerah Kotabaru, ke arah kantor pos besar tepatnya, dan biasanya berakhir di angkringan Lik Man. Panjul menolak istilah hotspot. Berdasarkan pengalamannya, istilah yang tepat adalah hotposts (tempat-tempat perhentian yang menarik). Karena perjalanan Panjul selalu tidak direncanakan. Dia hanya berjalan sesuka hatinya. Rute perjalanan yang tidak direncanakan itu tentu saja selalu berubah-ubah, tidak ada rute yang pasti, seperti halnya dalam pengalaman Olop dan Inyo. Hanya ada satu hal yang pasti dalam perjalanan Panjul, bahwa “perjalanan itu selalu penuh dengan ketidakpastian”. Pernah setibanya di Stasiun Tugu dari Surabaya, Panjul menghabiskan waktu di angkringan Lik Man dan kemudian berjalan kaki ke selatan menelusuri Jl. AM Sangaji dan terus ke Jl. Nyi Candrakila (d/h Jl. Monjali) sebelum akhirnya bertemu dengan temannya di sebuah Warnet.

Aktivitas Kota dan Ekspresi Dramatik Kota

Jika Kuzzy dan Olop menganggap jalan kaki sebagai kegiatan yang rekreatif, maka Inyo dan Panjul cenderung memiliki pemahaman yang lebih “mendalam” dalam berjalan kaki. Atau kalau dibuat penggolongan, maka ada dua jenis pejalan kaki, yakni yang rekreatif (seperti Kuzzy dan Olop) dan yang prokreatif (Inyo dan Panjul). Mungkin sama seperti perbedaan antara Cinta dan Rangga di film AADC yang berjalan kaki menyusuri sebuah trotoar yang indah[i] tentu berbeda dengan seorang tokoh dalam komik karya Jan Mintaraga yang berjalan kaki sendirian di malam hari menyusuri jalanan Jakarta tahun 1970an yang becek dan gelap. Pengalaman berjalan kaki kini rasanya lebih banyak dirasakan manusia Indonesia di mal atau pusat perbelanjaan. Pemerintah kota sendiri kerap menganggap trotoar sebagai ornamen kota yang pembangunannya justru tidak mengutamakan pejalan kaki, tapi bagi yang melihat trotoar itu dari kejauhan (dari dalam mobil atau dari atas motor). Di Jakarta misalnya, trotoar yang sudah luas malah diberi ruang untuk bebungaan dan menyempitkan ruang untuk para pejalan kaki. Jane Jacobs (1961) memandang bahwa jalan adalah urat nadi sebuah kota, tempat bertemunya warga kota sekaligus tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi. Lebih jauh Jacobs menjelaskan bahwa aktivitas seremeh apa pun di jalan adalah sebuah tindakan yang sarat dengan ekspresi dramatik. Hal-hal kecil itu justru adalah hal yang sangat vital bagi perkembangan jiwa kota dan segenap warganya, yang membuat sebuah kota terasa begitu hidup. Mungkin karena itu dengan lancar Katon Bagaskara menciptakan lagu tentang Yogyakarta, Leo Kristi tentang wilayah Kiaracondong di Bandung dan tentang Surabaya. Para pengembang perumahan sekarang menyadari betul dengan yang disebut “ekspresi dramatik” oleh Jane Jacobs tersebut. Mereka rela mengeluarkan uang untuk membangun kawasan bagi pejalan kaki dan aktivitas warga. Mungkin karena terlalu sering memperhatikan kota dari jarak jauh (dari lembaran cetak biru pengembangan kota, maket-maket, dan proposal), para perencana pembangunan kota dan pemerintah kota di Indonesia sering kali abai dengan hal-hal kecil dalam pembangunan kota. Mungkin mereka harus sering berjalan kaki menyusuri jalanan kota mereka masing-masing.

Referensi: Jane Jacobs (1992). The Death and Life of Great American Cities.
New York: Vintage Books.

 



[i] Trotoar yang indah dan hidup sering sekali digunakan sebagai adegan pemanis dalam film-film
Indonesia sekarang ini.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: