Oleh: Onny Wiranda | Februari 14, 2007

Prajurit Kraton Yogyakarta

Sebagai kota kebudayaan, Yogyakarta seharusnya menggunakan pendekatan keamanan yang lebih memiliki warna budaya. Tentunya agak pincang diskusi ini jika kemudian prajurit Keraton Yogyakarta dibandingkan dengan Pecalang di Bali. Sementara Pecalang adalah sebuah unit pengamanan yang diusahakan oleh tata adat masyarakat Bali, prajurit Keraton Yogyakarta adalah hasil dan perangkat tata kenegaraan Mataram.

Sejak abad 17, prajurit Keraton Yogyakarta telah menjaga Yogyakarta dan menjelajah Jawa. Di bawah pendudukan Belanda, peran kemiliteran mereka mengalami kemunduran. Setelah dibubarkan oleh pemerintahan militer pendudukan Jepang pada tahun 1942, baru pada tahun 1970 (25 tahun setelah kemerdekaan RI dan bergabungnya Kesultanan Yogyakarta dengan RI) prajurit keraton dihidupkan kembali sekalipun tidak utuh semua Bregada (kesatuan). Dengan demikian, tindakan penghidupan kembali Prajurit Kraton tentunya tidak atas dasar pertimbangan militer. Dan bahkan bisa jadi tidak dilakukan di bawah bayang-bayang romantisme kebesaran mereka.

Sejak tahun 1970, 10 Bregada (kesatuan) Prajurit Keraton Yogyakarta (Prajurit Wirobrojo, Prajurit Dhaeng, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Jogokaryo, Prajurit Mantrijero, Prajurit Prawirotomo, Prajurit Ketanggung, Prajurit Nyutro, Prajurit Surokarso dan Prajurit Bugis) bisa disaksikan masyarakat Yogyakarta pada setiap upacara Garebeg Mulud, Garebeg Besar dan Garebeg Syawal, di alun-alun utara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dalam upacara Garebeg Syawal yang baru saja berlalu, saya berkesempatan menyaksikan kembali secara langsung prajurit-prajurit Kraton. Sekalipun kebanyakan sudah berusia lanjut dan sepertinya kurang leluasa bergerak dengan seragam yang “ribet”, mereka melakukan tugasnya dengan penuh semangat. Tidak jauh dari lokasi upacara Garebeg syawal, di Mirota Batik Jl. Malioboro, patung-patung prajurit Bugisan, Prawirotaman, tampak berdiri berdampingan dengan patung-patung serdadu Yunani Kuno. Ada kebetulan yang pahit dengan pemandangan itu. Patung prajurit Yunani kuno (sekalipun warisan kebudayaan Yunani masih lestari) yang sudah lama lenyap, berdiri berdampingan dengan patung-patung prajurit Kraton Yogyakarta. Seakan posisi mereka dalam sejarah Yogyakarta sudah ditetapkan; siap digerus waktu dan hilang.

Prajurit Kraton semestinya mendapatkan tempat pula dalam posisi “keistimewaan” DIY. Tempat yang memungkinkan mereka untuk bisa menyelami masyarakat Yogyakarta dan memelihara nuansa budaya kota Yogyakarta. Namun hal ini sama sekali tidak didasari pemikiran bahwa peran prajurit Kraton sekarang ini tidak ada. Di Bali kita lihat, bagaimana Pecalang masih memiliki peranan yang kuat dalam tata masyarakat Bali, tanpa membuat masyarakat Bali menjadi masyarakat yang militeristik. Beberapa anggapan memang memandang bahwa pecalang adalah perwujudan sisi Bali yang keras. Namun kehadiran mereka sebenarnya adalah perpanjangan nafas kebudayaan Bali dalam sistem keamanan masyarakat. Sistem yang sudah lama meninggalkan kebijakan lokal masyarakat Indonesia dalam hal pengamanan. Pamong praja dewasa ini misalnya, lebih senang menggusur rumah daripada melayani keluhan masyarakat. Selain menambah keamanan, Prajurit Keraton tentunya akan semakin memperkuat kadar keistimewaan DIY serta kadar tawaran pariwisata DIY.


Responses

  1. Semoga Prajurit Keraton Yogyakarta dapat menjaga budaya luhur masyarakat di DIY. Prajurit Keraton tetap harus tegas dalam menjaga dan mengamankan berbagai aspek kehidupan budaya keraton, seperti halnya Pecalang di Bali yang menjaga Tri Hita Karana.

    Salam,
    Sapteka
    http://www.sapteka.net/pecalang.htm

  2. seragam prajurit kraon yogya itu ada arti nya nga?..klau blh tau saya blh minta data nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: